Guru, Hari Guru, dan Cermin Dunia Kerja: Sebuah Renungan dari Aktivis Serikat Pekerja

 



Setiap tanggal 25 November, kita diingatkan kembali pada sosok yang pertama kali memperkenalkan kita pada disiplin, logika, keberanian, dan harapan: guru. Mereka bukan hanya pengajar, tetapi pendidik yang membentuk pola pikir dan karakter. Dalam perjalanan panjang dunia ketenagakerjaan yang penuh dinamika, saya sering menemukan bahwa apa yang saya lakukan hari ini sebagai aktivis serikat pekerja—bernegosiasi, membangun solidaritas, memperjuangkan martabat kerja—semuanya dapat dirunut kembali pada pelajaran sederhana yang dulu diajarkan guru saya: bahwa setiap manusia berharga dan layak diperjuangkan.


Guru: Pekerja yang Jarang Disebut “Pekerja”


Di tengah hiruk-pikuk industri, sering kali kita lupa bahwa guru adalah bagian dari kelas pekerja juga. Mereka bekerja dengan beban administratif yang menumpuk, jam kerja yang melampaui yang terlihat, gaji yang tidak selalu sebanding, serta tekanan sosial yang terus meningkat.


Guru adalah profesi yang selalu dituntut untuk sempurna—tanpa diperlakukan dengan sempurna.


Ketika saya berbicara tentang hak-hak pekerja, saya selalu teringat bagaimana guru mengajarkan kami tentang nilai keadilan. Ironisnya, justru para guru itu sendiri sering berjuang menghadapi ketidakadilan: status kerja yang belum tetap, fasilitas yang minim, hingga kebijakan yang berubah-ubah tanpa melibatkan suara mereka.


Hari Guru: Bukan Sekadar Seremoni


Hari Guru sering dirayakan dengan bunga, ucapan, dan seremoni. Itu baik—tetapi tidak cukup. Yang paling dibutuhkan guru adalah:


Pengakuan bahwa mereka adalah pekerja profesional.


Perlindungan kerja yang jelas dan kuat.


Kesejahteraan yang memungkinkan mereka hidup bermartabat.


Ruang partisipasi dalam penyusunan kebijakan pendidikan.




Sebagai aktivis serikat pekerja, saya percaya bahwa penghargaan sejati kepada guru bukan hanya dalam bentuk perayaan tahunan, tetapi melalui keberpihakan yang nyata dalam kebijakan dan hubungan industrial.


Pelajaran Guru yang Dibawa ke Dunia Kerja


Jika kita cermati, banyak nilai inti pergerakan buruh sebenarnya berakar dari ruang kelas:


Solidaritas — dari kerja kelompok.


Tanggung jawab — dari tugas dan disiplin.


Keberanian bersuara — dari dorongan untuk bertanya dan berpendapat.


Keadilan — dari perlakuan adil antar siswa.



Guru adalah pendidik pertama tentang nilai-nilai pergerakan. Merekalah yang menanamkan benih kesadaran kritis yang kini tumbuh menjadi gerakan pekerja yang kuat.


Peran Guru dalam Mempersiapkan Generasi Pekerja



Di dunia kerja modern yang serba cepat, guru memiliki peran strategis dalam membentuk generasi pekerja masa depan—generasi yang punya keterampilan, tetapi juga karakter, empati, dan kesadaran hak-hak mereka.


Jika guru tidak didukung, bagaimana mungkin kita berharap lahirnya tenaga kerja yang kompeten dan berdaya?


Mengapa Aktivis Buruh Harus Juga Memperjuangkan Guru


Guru adalah bagian dari kelas pekerja. Ketika mereka sejahtera, pendidikan menjadi lebih berkualitas. Ketika pendidikan berkualitas, dunia kerja juga akan lebih sehat, produktif, dan manusiawi. Siklusnya saling terhubung.


Memperjuangkan guru berarti memperjuangkan masa depan pekerja.


Penutup: Terima Kasih, Guru—Pejuang yang Tak Pernah Minta Dipuji


Di Hari Guru ini, izinkan saya menyampaikan satu hal:

Terima kasih kepada para guru yang mengajari kami arti nilai, sebelum kami memperjuangkan nilai-nilai itu di dunia kerja.


Sebagai aktivis serikat pekerja, saya tahu bahwa perjuangan belum selesai. Namun saya percaya, setiap langkah kecil memperjuangkan keadilan adalah bentuk penghormatan paling tulus kepada mereka—para guru—yang dulu mengajarkan arti keberanian.


Baca Juga

Post a Comment

4 Comments

  1. Guru adalah semua orang yang memberikan pembelajaran dalam hidup

    ReplyDelete
  2. Selamat hari guru....
    Doa terbaik untuk semua guru yg selalu mendedikasikan pendidikan anak bangsa..

    ReplyDelete

Dark Mode